Minggu, 24 Januari 2021

PELUANG DAN TANTANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DALAM INDUSTRI 4.0

KELOMPOK 3

DAFFA TSANY SEMBODO (11118617)
DENNIS FERDIAN (11118749)
MUHAMMAD CHALIF CHAIDIR (14118521)
QABILIE AUZA’IE M ASAS (15118684)
RADEN RAECHAN SHEFA ADITYA (15118728)

A. Pendahuluan

Perkembangan teknologi memberikan pengaruh terhadap kehidupan manusia. Revolusi industri pertama berlangsung pada tahun 1784-1870 dengan diciptakan teknologi mesin uap dan tenaga air di Eropa. Perkembangan pabrik-pabrik dengan mesin baru membuat perubahan perekonomian di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi. Perkembangan ini juga berdampak pada budaya yang bergerak secara cepat dan menjadi catatan sejarah peradaban. Menurut Hobsbawm (2017), perkembangan demografi juga mempengaruhi permintaan barang produksi sehingga mulai munculnya pengaturan upah, pembagian tanggung jawab, pengaturan waktu kerja dan tingkat urbanisasi yang tinggi. 

Pada awal tahun 1900, ditemukan listrik yang merupakan awal dimulainya revolusi industri kedua. Pada era ini perkembangan manufaktur digerakkan oleh mesin-mesin bertenaga listrik untuk produksi barang secara massal atau dalam jumlah banyak. Revolusi ini mulai berkembang di berbagai dunia, tidak hanya di Eropa, tetapi sudah merambat ke Amerika Serikat dan Jepang yang pada saat itu mengembangkan industri perkeretaapian, logam dan kimia. 

Pada tahun 1969, mulai era industri ketiga yaitu ditandai dengan perkembangan industri menggunakan elektronik dan internet sebagai bagian otomatisasi pabrik. Revolusi ini juga ditandai dengan berkembangnya kegiatan penelitian dan pengembangan terutama untuk komputer, chips dan internet. Perkembangan bidang manufaktur, elektronik, dan teknologi sudah mulai mengotomatisasikan seluruh kegiatan perencanaan dan kontrol. Muncullah istilah Advanced Manufacturing Technologies (AMT) pada tahun 1980, diantaranya mengarah pada teknologi sebagai manufaktur terintegrasi komputer (Computer Integrated Manufacturing - CIM), desain berbantuan komputer (Computer Aided Design - CAD), manufaktur bantuan komputer (Computer Aided Manufacturing - CAM), dan sistem manufaktur fleksibel (Flexible Manufacturing System - FMS). Menurut Goldhar dan Jelinek (2017), tujuan industri pada era ini adalah untuk menghadirkan fleksibilitas, siklus produksi yang lebih pendek, produk yang lebih disesuaikan, respons yang lebih cepat, kontrol yang lebih baik, dan akurasi proses. 

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin pesat pada awal abad 20, menciptakan teknologi informasi dan proses produksi yang dikendalikan secara otomatis. Mesin industri tidak lagi dikendalikan oleh manusia tetapi menggunakan sistem otomatisasi berbasis komputer atau Programmable Logic Controller (PLC). Perkembangan ini dikenal dengan revolusi industri 4.0. Dengan adanya teknologi tersebut, dapat menekan biaya produksi dan meningkatkan jumlah produk. Selain itu, revolusi ini ditandai dengan adanya teknologi kamera yang terintegrasi dengan mobile phone. 

B. Industri 4.0 

Industri 4.0 lahir di Jerman saat HannoverFair 2011. Bertujuan untuk mempertahankan Jerman terdepan di dunia manufaktur Berbagai istilah revolusi ini di berbagai negara seperti fourth industrial revolution, connected enterprise, smart factories. Walaupun memiliki banyak istilah tapi tujuannya sama yaitu meningkatkan daya saing industri dalam menghadapi perubahan global yang sangat dinamis. Tetapi di Indonesia dikenal dengan istilah Making Indonesia 4.0 

Industri 4.0 menggambarkan peningkatan digitalisasi dan otomatisasi di lingkungan manufaktur, serta menciptakan rantai digital yang memungkinkan komunikasi antara produk lingkungan mereka dan mitra bisnis. 

Paradigma revolusi 4.0 ditandai dengan munculkan dengan perpaduan antara fisik, digital, dan biologi. kecerdasan buatan, robotika internet of things, kendaraan otonom, pencetakan 3d, nanoteknologi, bioteknologi ilmu material, penyimpanan energi, dan komputasi kuantum merupakan teknologi yang lahir dan berkembang pada revolusi industri 4.0 ini. Industri 4.0 ini mencakup perubahan sosial, terkait pekerjaan khususnya bidang industri dan teknologi. Revolusi industri 4.0 memiliki skala, ruang lingkup dan kompleksitas yang lebih luas dan telah mempengaruhi semua ilmu, ekonomi industri dan pemerintah. 

· 9 pilar industri 4.0 (gelbert dkk, 2015) 

1. Big data dan analitis 

2. Autonomous robots 

3. Simulation 

4. Horizontal and vertical system integration 

5. Internet of things 

6. Cybersecurity 

7. Cloud 

8. Additive manufacturing 

9. Augmented reality 

Pada revolusi industri 4.0 semua komponen akan diubah menjadi lebih cerdas, sehingga memungkinkan mengelola proses produksi secara realtime tanpa jarak dan kemampuan untuk mengkustomisasi produk. Ini memungkinkan menghadirkan produk sesuai dengan keperluan pelanggan dengan biaya lebih rendah, kualitas tinggi, dan tingkat efisiensi yang tinggi. 

Industri 4.0 membuat semua produk, proses dan prosedur menjadi lebih cerdas membuat konektivitas terjadi dimana-mana. Inti dari visi industri 4.0 adalah Iot dan layanan internet yang berarti konektivitas terjadi pada manusia, benda, dan mesin terjadi dimana-mana. 

Revolusi industri 4.0 didasari oleh data, data tersebut dikumpulkan dan dianalisis, dan digunakan untuk mengambil keputusan. Revolusi industri 4.0 ini menciptakan integrasi horizontal, integrasi vertikal dan meningkatkan akselerasi melalui exponen technologies. Pendekatan ini menimbulkan bisnis proses yang baru. Integrasi akan mempunyai standarisasi, infrastruktur yang komprehensif, keamanan dan privasi, organisasi kerja dan desain(karyawan lebih terlibat dan maju lebih baik) dan penggunaan sumber daya yang lebih efektif. 

· 3 perbedaan revolusi 4.0 dengan revolusi sebelumnya (tjandrawinata, 2016): 

1. Inovasi dikembangkan dan menyebar lebih cepat dari sebelumnya 

2. Penurunan biaya produksi 

3. Berpengaruh besar hampir seluruh dunia 

C. Dampak Umum Industri 4.0 

Perubahan pada satu bidang dapat berpengaruh terhadap perubahan pada bidang lain yang saling berkaitan. Hal ini membuat industri 4.0 membawa dampak berantai terhadap semua bidang. 

Industri 4.0 diwakili oleh pertumbuhan tinggi dalam platform yang memungkinkan teknologi telah mengganggu struktur industri yang ada dan menciptakan cara-cara baru dalam mengkonsumsi barang melalui kombinasi permintaan dan penawaran. 

Industri 4.0 akan potensial meningkatkan produktivitas dan daya saing (productivity and competitiveness), meningkatkan efisiensi energi dan sumber daya, dan secara bersamaan juga melindungi kondisi lingkungan. Pada era ini, ekonomi industri akan memungkinkan produk-produknya untuk di-reused, remanufactured, dan recycled. Kemudian, terdapat keuntungan lain dari implementasi industri 4.0, yaitu: 

1) Mempersingkat masa pemasaran produk baru. 

2) Meningkatkan respon dari pelanggan. 

3) Peluang untuk mengkustomisasi produk tanpa adanya peningkatan biaya produksi. 

4) Lingkungan kerja yang lebih nyaman dan fleksibel. 

5) Lebih efisien dalam penggunaan energi dan sumber daya. 

Menyikapi era industri 4.0, Menteri Perindustrian RI Airlangga Hartanto mengatakan revolusi industri 4.0 tidak hanya berpotensi luar biasa dalam merombak industri, tapi juga mengubah berbagai aspek kehidupan manusia. Kementrian Perindustrian telah menetapkan 4 langkah strategis dalam menghadap industri 4.0, yaitu: 

1) Mendorong agar angkatan kerja di Indonesia terus meningkatkan kemampuan dan keterampilan nya, terutama dalam menggunakan teknologi IoT. 

2) Pemanfaatan teknologi digital untuk memacu produktivitas dan daya saing bagi Industri Kecil dan Menengah (IKM) agar mampu menembus pasar ekspor melalui program E-smart IKM. 

3) Pemanfaatan teknologi digital yang lebih optimal dalam perindustrian nasional. 

4) Mendorong inovasi teknologi melalui pengembangan start-up dengan memfasilitasi inkubasi bisnis agar lebih banyak wirausaha berbasis teknologi di Indonesia. 

Akan tetapi, Kligenberg (2017) mengatakan konsekuensi industri 4.0 pada pekerjaan, penciptaan dan distribusi kekayaan, belum sepenuhnya dipahami, namun ada kekhawatiran yaitu akan berdampak pada pekerjaan di negara-negara berkembang. 

Prof. Magnus P. Karlsson (Royal Institute of Technology, Stockholm, Sweden.) mengatakan bahwa industri 4.0, termasuk gelombang otomatisasi berikutnya, akan sangat transformatif dan menguraikan tiga kelompok tantangan: 

· Kesadaran dan Kesiapan (Awareness and Readiness

Ketidakpastian adalah faktor kunci – ada kebutuhan untuk eksperimen dan pembelajaran – dan bahkan tidak belajar. 

· Eksplosi Data (Explotion of Data

Membangun ekosistem digital akan membutuhkan konektivitas tanpa batas, berbagi data, dan standar yang disepakati untuk pertukaran data dan komponen yang merupakan bagian dari sistem. Ketika data mulai menumpuk dan dibagikan, masalah lain datang ke permukaan, seperti keamanan data dan privasi. 

· Transformasi Tenaga Kerja (Workforce Transformation

Pergeseran dalam pekerjaan akan terjadi secara bertahap tetapi mendalam. Tenaga kerja digital seperti penggunaan drone pintar, robot, dan bantuan cerdas akan memasuki dunia kerja. 

Sistem bantuan pintar membebaskan pekerjaan dari keharusan melakukan tugas rutin, memungkinkan mereka untuk fokus pada kegiatan yang kreatif dan bernilai tambah. Sementara itu Moraes (2017) menyebutkan Industri 4.0 memungkinkan peningkatan produktivitas dan efisiensi sumber daya secara berkelanjutan di seluruh jaringan nilai (value chain). Ini memungkinkan pekerjaan diatur sedemikian rupa sehingga memperhitungkan perubahan demografis dan faktor sosial. 

Pertumbuhan dalam industri 4.0 juga menyoroti salah satu tantangan umum yang ditimbulkan oleh pertumbuhan pesat dalam teknologi informasi dan komunikasi: privasi. Pembagian/penyebaran dan pelacakan informasi, hilangnya kendali atas data, dan pengungkapan informasi tentang kehidupan pribadi konsisten dengan konektivitass baru (Anderson % Mattsson, 2015). Dengan demikian, salah satu tantangan paling penting bagi pemerintah, pembuat kebijakan, dan masyarakat adalah bagaimana menggeser budaya industri dan masyarakat untuk mengatasi serangkaian gangguan teknologi yang terkait dengan era industri baru ini. 

Brynjolfsson dan McAfee dalam Mohrar, Arman dan Mousa (2017) menekankan bahwa, untuk mengambil keuntungan dari peluang yang diberikan oleh revolusi industri baru, penting untuk mengenali dampaknya terhadap seluruh masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat harus mempertimbangkan inovasi sosial bersamaan dengan revolusi teknologi. 

D. Kompetensi SDM Dalam Menghadapi Industri 4.0 

Perubahan proses industri di era industri 4.0 mempengaruhi sisi kehidupan manusia diantaranya yaitu sisi ekonomi, sosial, budaya dan politik. Adanya perubahan proses industri yang menggunakan teknologi informasi dan telekomunikasi yang modern tanpa mengenal jarak, realtime, menggunakan analisis big data dalam proses produksi membuat produksi berjalan efisien. Industri 4.0 akan mengkombinasikan analitis data besar (big data) dan kapasitas penyimpanan komputasi awan (cloud). Disisi lain beberapa pekerjaan yang sebelumnya ditangani oleh manusia akan digantikan oleh mesin otomatis yang cerdas dan tenaga robot yang telah di program. Kergroach (2017) menyatakan otomatisasi tidak lagi terbatas pada tugas-tugas fisik atau manual, tugas-tugas kotor, berbahaya, atau membosankan, tetapi dapat membahayakan banyak pekerjaan intelektual, kognitif, atau kerah putih analitis yang mencakup beberapa tugas rutin, mulai dengan transportasi, dukungan kantor , atau layanan konsumen . Kemudian akan terjadi efisiensi (low cost production) di seluruh lini produksi dan produktivitas akan meningkat dibanding sebelumnya. 

Industri 4.0 membuat kemajuan industri dan perusahaan di negara-negara Eropa, Amerika dan Asia. Negara lain di sekitarnya akan mengalami hal tersebut karena dengan adanya globalisasi informasi tanpa batas dan teknologi telekomunikasi tanpa batas. Dari adanya kemajuan teknologi industri ini membuat setiap negara dan perusahaan berlomba memenangkan persaingan dengan meningkatkan daya saing (competetive advantage) dan meraih keuntungan. Menurut Mello dan Haryono (2018) terdapat tiga dampak bagi organisasi untuk merespon perubahan teknologi baru, yaitu: (1) perlunya meningkatkan skills dan work habits pegawai, (2) tersingkir nya jabatan tingkat rendah dan level manajerial, (3) hirarki berkurang, lebih berorientasi pada kerjasama atau kolaborasi (4) Kehidupan pekerja pada era industri 4.0 didominasi oleh self-directed striving for personally valued career outcomes (Hirschi dkk. dan Haryono, 2018). Bella (2018) mengatakan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi poin penting untuk mendorong suatu negara ber-evolusi ke generasi industri selanjutnya. Haryono (2018) mengatakan dalam menghadapi revolusi industri 4.0, ada tiga hal yang berkaitan dengan SDM yang perlu diperhatikan semua pihak yaitu kualitas, masalah kuantitas dan masalah distribusi SDM berkualitas yang masih belum merata. 

Dalam perkembangan industri 4.0 dibutuhkan peranan SDM yang handal dan kualifikasi kompetensi SDM yang terlibat di dalam proses industri itu harus dapat mengimbangi atau mengikuti proses tersebut. Kompetensi SDM merupakan karakteristik dasar perilaku individu yang berhubungan dengan kriteria acuan efektif dan atau kinerja unggul di dalam pekerjaan atau situasi. Dibutuhkannya kualifikasi kompetensi SDM berkaitan dengan seberapa jauh sebuah perusahaan (pabrik) atau organisasi mengimplementasikan fitur-fitur industri 4.0 tersebut dalam operasionalnya. Maresova dkk. (2018) menyatakan kompetensi utama yang relevan di masa depan adalah kompetensi yang berkaitan dengan IT, perangkat lunak (software), program aplikasi, dan sistem otomatis. Kompetensi ini jua melibatkan keterampilan yang berorientasi pengguna akan keperluan, keterampilan komunikasi, keterampilan sosial, keterampilan organisasi, kerja tim, pekerjaan proyek, kesadaran antar budaya dan keterampilan bahasa. 

Kergroach (2017) menyatakan pekerjaan baru dalam era industri 4.0 akan membutuhkan kompetensi dan keterampilan baru. Perpaduan keterampilan yang diperlukan untuk tampil dalam masyarakat modern telah menjadi semakin kompleks dan akan terus berkembang seiring dengan perkembangan lingkungan kerja. Perusahaan akan membangun sumber daya manusia dengan keterampilan baru, menerapkan perubahan organisasi dan mengadopsi praktik manajemen baru. Menurut Haryono (2018) untuk menjawab tantangan era revolusi industri 4.0 tidak cukup hanya dengan literasi manusia lama, yang hanya mendasarkan pada kemampuan membaca, menulis dan menghitung. Dalam industri 4.0, modal dasar SDM yang harus dimiliki adalah keterampilan yaitu kepemimpinan (leadership) dan bekerja dalam team (teamwork), kelincahan dan kematangan budaya (cultural agility), dengan latar belakang budaya yang berbeda tetap bisa bekerjasama, dan entreprenurship (termasuk sociopreneurship). 

Menurut Aoun dan Haryono (2018) untuk mendapatkan SDM yang kompetitif dalam industri 4.0, kurikulum pendidikan harus dirancang agar out put-nya mampu menguasai literasi baru, yaitu literasi data, literasi teknologi dan literasi manusia, humanities, komunikasi dan desain. Berikut tabel karakteristik kompetensi yang dibutuhkan dalam era industri 4.0 dari beberapa pustaka : 




Kementerian Perindustrian dan Perdagangan menyatakan, bahwa dimasa industri 4.0 akan ada 3 elemen kompetensi yang sangat berperan bagi SDM untuk dapat bersaing di era industri 4.0 seperti pada gambar berikut ini : 




Menurut Gray (2016) , World Economic Forum menyimpulkan bahwa pada tahun 2020 akan ada 10 keterampilan yang utama dalam era industri 4.0 seperti pada gambar berikut ini : 




E. Penutup 

Era Industri 4.0 ini membawa perubahan di berbagai sektor industri dan menjadi salah satu hasil perkembangan ilmu pengetahuan dan pengembangan teknologi yang dikembangkan manusia dalam memenuhi kebutuhannya. 

Industri 4.0 akan mempengaruhi proses produksi di berbagai manufaktur. Dan juga pada Industri 4.0 ini, keberadaan Sumber Daya Manusia (SDM) tetap akan menjadi sangat krusial. Keterampilan (skill) dan pengetahuan (knowledge) dasar SDM tentang proses produksi dalam berbagai fitur-fitur transformasi di dalam Industri 4.0. 

Minggu, 12 Juli 2020

Service Management Tools

Tool Assessment Framework


Alat-alat ITSM dirancang untuk mengatur bagaimana layanan TI disampaikan dalam suatu perusahaan, berdasarkan anggaran, orang, proses, dan hasil. Meskipun banyak orang mungkin berpikir bahwa alat-alat ITSM hanya diperlengkapi dengan alat bantu-bantu, kenyataannya berbeda. 

ITSM menekankan pada pendekatan yang dipimpin oleh proses. Proses-proses ini terdiri dari serangkaian praktik terbaik dan disebut kerangka kerja atau framework. Kerangka kerja ITSM berfokus pada layanan daripada sistem - tidak seperti disiplin TI lainnya seperti manajemen jaringan, yang lebih fokus pada teknologi. 

Untuk membantu organisasi menerapkan ITSM secara efektif, banyak solusi dan alat ITSM telah muncul untuk merampingkan penyampaian layanan, transparansi, dan komunikasi. Pada intinya, alat ITSM adalah solusi manajemen alur kerja yang mencakup kemampuan yang sangat berharga bagi tim TI. Sementara beberapa solusi yang berdiri sendiri, seperti sistem help desk dan pusat-pusat pengetahuan, memenuhi aspek ISTM, mereka bukan solusi yang lengkap dan akan membuat tim berusaha menyatukan pendekatan yang komprehensif. 

Karena ITSM adalah tentang meningkatkan TI dan bisnis, ada manfaat yang bisa didapat. Dengan ITSM, tim TI dapat : 
  • Memungkinkan tim teknis untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang apa yang dibutuhkan tim bisnis 
  • Skala layanan 
  • Admin bantuan yang menentukan peran dan tanggung jawab internal 
  • Tingkatkan produktivitas pekerja 
  • Membantu memastikan kinerja dan produktivitas untuk pengguna akhir 
  • Meningkatkan waktu rata-rata untuk penyelesaian ketika masalah terjadi 
  • Membantu tim TI membangun kinerja dan langkah-langkah keamanan yang lebih proaktif 
  • Mengoptimalkan kemampuan mereka untuk menemukan dan memecahkan masalah yang berulang 
  • Analitik yang lebih baik untuk mengukur dan meningkatkan keseluruhan beban kerja TI

Analysis of Specific ITSM Tools


Perangkat lunak ITSM terbaik akan mencakup fitur-fitur berikut :
  • Manajemen Lisensi. Melihat persyaratan lisensi dan mengelola pembaruan, dan diberi tahu tentang perubahan atau pembaruan yang akan dating.
  • Model Layanan TI Siap. Gunakan model praktik terbaik yang ada untuk memandu proses Anda dengan model layanan TI bawaan.
  • Manajemen Masalah dan Insiden. Temukan solusi untuk mengurangi waktu henti dan mencegah insiden sebelum terjadi.
  • Tiket. Melacak solusi dan menetapkan pekerjaan berdasarkan spesialisasi atau pengalaman teknis dan mengamati tren dalam lingkup pekerjaan.
  • Manajemen Asset. Lacak dan kelola perangkat fisik dan add-on di sepanjang siklus hidupnya.

Selection of The Tool That Best Fits a Given SMS


1. Cherwell


Cherwell ITSM menyediakan platform SaaS berbasis cloud yang bertujuan untuk menyederhanakan manajemen TI secara keseluruhan dengan memungkinkan pengelolaan konfigurasi, visualisasi, dashboard, laporan, dan tugas pemantauan lainnya secara mudah. Perangkat lunak ini diverifikasi untuk digunakan dengan berbagai proses ITIL yang umum digunakan, dan fleksibel serta dapat diukur. 

Ada sejumlah opsi untuk mengotomatisasi alur kerja dan tugas administrasi rutin, untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi di semua staf dan pengguna TI, plus ada sejumlah ekstensi dan integrasi yang tersedia. 

Meskipun tidak ada harga yang diiklankan secara langsung, Cherwell menyatakan bahwa mereka bertujuan untuk membuat biaya semurah mungkin dengan mengharuskan paling sedikit pengguna untuk dilisensikan, dan demo gratis tersedia. 

ITSM hanyalah salah satu dari sejumlah platform SaaS yang ditawarkan oleh Cherwell, dengan yang lain termasuk manajemen aset TI, manajemen SDM dan fasilitas, serta keamanan, perusahaan, dan manajemen proyek.

2. Freshservice


ITSM berbasis cloud yang berjanji untuk menstandarisasi proses dengan cara yang "licin, modern, dan efisien". Paket perangkat lunak ITSM ini menawarkan serangkaian fitur termasuk peluang untuk kolaborasi antara agen, manajemen masalah proaktif yang dapat mengurangi insiden meja layanan hingga 40%, dukungan untuk analisis akar penyebab insiden melalui garis waktu visual dan koordinasi untuk rilis baru dengan awal dan akhir standar tanggal. Ada juga aplikasi seluler yang tersedia untuk iOS dan Android. 

3. ServiceNow


ServiceNow menawarkan ITSM di antara keluarga produk pendukungnya. Manajemen Layanan TI mereka berupaya untuk menggabungkan Layanan TI menjadi platform berbasis cloud tunggal, dan memiliki banyak pelanggan kelas berat termasuk GE Digital, Broadcom, dan Overstock.com. 

Ini fitur kemampuan untuk menggabungkan yang penting, tetapi seringkali sulit untuk bekerja dengan aplikasi warisan ke lokasi cloud tunggal, dengan proses manual menjadi otomatis di sepanjang jalan. Perusahaan juga mengklaim peningkatan produktivitas TI melalui penerapan fitur-fitur seperti manajemen insiden dengan perutean otomatis, manajemen aset dan biaya yang dapat melacak biaya dan kontrak untuk aset, dan portal layanan mandiri modern yang dapat diakses oleh konsumen.

ServiceNow IT Service Management juga dapat diintegrasikan ke dalam dashboard analitik kinerja waktu-nyata, dengan kemampuan untuk mengukur kinerja Anda di antara rata-rata industri sejenis.

Sumber Referensi :

Minggu, 31 Mei 2020

Service Management System


Sistem manajemen layanan (SMS) adalah sistem manajemen yang mencakup semua yang dimaksudkan untuk menyatukan semua aspek manajemen organisasi perencanaan, strategi, kebijakan, tujuan, dokumentasi, dan proses. Ini juga merupakan sumber daya utama untuk desain dan pengembangan serta transisi ke organisasi yang berorientasi layanan yang memenuhi kebutuhan bisnis. 

Sistem manajemen layanan adalah sistem modular besar yang menggabungkan semua atau sebagian besar aspek organisasi yang berorientasi layanan. Untuk memiliki pola pikir manajemen layanan, organisasi harus memahami tingkat kematangan proses yang diperlukan untuk menjadi organisasi yang berorientasi layanan. 

Organisasi standardisasi seperti Information Technology Infrastructure Library (ITIL) dan International Organnization for Standardization/Interational Electrotechnical Commission (ISO / IEC) menyediakan kerangka kerja standar untuk penciptaan sistem manajemen layanan serta memberikan konsep dan praktik terbaik di balik manajemen layanan itu sendiri . 

Organisasi manajemen layanan dapat menjadi seluruh organisasi atau bagian khusus dari organisasi itu, yang paling umum adalah organisasi atau departemen TI. Itulah sebabnya manajemen layanan sering dikaitkan dengan manajemen layanan TI, tetapi yang terakhir hanya sebagian dari yang sebelumnya. Manajemen layanan berlaku untuk organisasi apa pun seperti makanan, manufaktur, dan bahkan perawatan kesehatan tetapi gagasan intinya tetap sama untuk menyediakan sistem terpusat untuk perencanaan, pengembangan, dan pemberian layanan baik kepada organisasi itu sendiri atau kepada pihak ketiga. 

Ruang lingkup sistem manajemen layanan harus didefinisikan dalam hal:
  • Lokasi layanan
  • Pelanggan
  • Lokasi pelanggan
  • Teknologi

Service Portfolio Management


Sistem manajemen kritis adalah portofolio layanan, yang memberikan pandangan manajemen tingkat dari semua layanan TI karena mereka bergerak melalui siklus layanan ITIL. Memiliki tiga bagian yaitu :
  • Saluran layanan yang menyimpan informasi tentang layanan yang berada di bawah pengembangan.
  • Katalog layanan yang menyimpan semua detail layanan yang sudah masuk produksi atau siap pindah ke produksi.
  • Layanan pensiunan yang telah dihentikan dari penggunaan operasional.

Tujuan manajemen portofolio layanan (SPM) adalah untuk memastikan keputusan itu berinvestasi dalam layanan TI baik dan sepenuhnya selaras dengan kebutuhan dan prioritas bisnis. Setelah keputusan dibuat untuk berinvestasi, investasi harus dikelola melalui siklus hidupnya, dan tujuan SPM di sini adalah untuk memastikan bahwa investasi memberikan nilai optimal bagi organisasi. Sebagai sistem pendukung manajemen, portofolio layanan memungkinkan organisasi menjawab pertanyaan strategis tentang layanan, pelanggan, dan harga, serta membantu menetapkan prioritas dan rencana alokasi sumber daya.

Tujuan SPM diantaranya adalah :
  • Mengembangkan dan memelihara portofolio layanan yang memberikan gambaran lengkap tentang semua layanan termasuk statusnya.
  • Menetapkan kondisi dan persyaratan untuk dimasukkannya layanan baru di portofolio layanan.
  • Memastikan katalog layanan dikembangkan dan dikelola sebagai bagian dari portofolio, dan menyetujui aturan untuk mentransfer layanan ke katalog layanan sebagaimana adanya pindah ke transisi dan keluar dari katalog dan saat mereka memasuki masa pensiun.
  • Memastikan portofolio layanan memenuhi fungsional dan kinerja persyaratan penggunanya dan bahwa kinerja, ketersediaan, dan keamanannya memenuhi persyaratan yang disepakati.
  • Memastikan bahwa laporan manajemen dihasilkan sesuai dengan yang disepakati persyaratan pelaporan.

Untuk mengelola dan memahami informasi, portofolio layanan dipisahkan secara konseptual, dan seringkali secara fisik, menjadi tiga komponen yang terpisah:
  • Pipa layanan, yang mencakup layanan yang belum pindah ke operasi.
  • Layanan pensiunan, yang mencakup informasi tentang layanan yang telah diambil di luar penggunaan operasional dan yang dianggap berharga untuk menyimpan informasi tentang mereka.
  • Di antaranya adalah layanan yang operasional dan pengiriman ke pelanggan. Layanan ini dicakup oleh katalog layanan.

Service Level Management


SLM adalah pengurus hubungan antara penyedia layanan TI dan penyedia layanannya pelanggan dan bertanggung jawab kepada pengguna untuk layanan yang diberikan. Manajemen tingkat layanan (SLM) ada untuk memastikan bahwa layanan sepenuhnya selaras dengan kebutuhan bisnis dan memenuhi persyaratan pelanggan untuk fungsionalitas, ketersediaan dan kinerja. 

Tujuannya adalah untuk memastikan tingkat layanan dinegosiasikan dan disepakati dengan pelanggan dan semua layanan dikirim ke yang disepakati tingkat layanan didefinisikan dalam hal indikator kinerja yang disepakati. SLM juga harus memastikan bahwa layanan terus ditingkatkan di mana perbaikan diperlukan oleh pelanggan dan dapat dibenarkan dalam hal biaya mereka. 

Aktivitas utama SLM meliputi :
  • Mengembangkan dan menegosiasikan SLA dengan pelanggan.
  • Memastikan SLA didukung oleh perjanjian internal (OLA) dan eksternal (UC) yang mendukung pencapaian tingkat layanan yang disepakati.
  • Bertindak sebagai jembatan antara penyedia layanan TI dan bisnis.
  • Mengelola dan memelihara hubungan yang positif dan konstruktif dengan pelanggan. Sebagai antarmuka utama antara TI dan bisnis, itu harus tetap up to date dengan semua perkembangan yang relevan.

Tujuan SLM diantaranya adalah : 
  • Membangun dan memelihara hubungan yang efektif dan produktif dengan pelanggan.
  • Menentukan dan menyetujui dengan pelanggan tingkat layanan TI yang diperlukan dengan cara tertentu bahwa pelanggan mengerti.
  • Mengelola kinerja layanan untuk memastikan tingkat yang disepakati tercapai dan bahwa pelanggan senang dengan apa yang mereka terima.
  • Memastikan sistem tetap diterapkan untuk meningkatkan tingkat layanan jika organisasi menginginkannya dan biayanya dapat dibenarkan dan terjangkau. 

Manajemen tingkat layanan menyediakan jembatan antara penyedia layanan TI dan bisnis, yang beroperasi sebagai titik fokus bagi pelanggan dan bisnis dalam berurusan dengan penyedia layanan TI. Melalui kontak dan komunikasi reguler, SLM harus mewakili penyedia layanan TI untuk bisnis, dan bisnis ke penyedia layanan TI. Dari posisi sentralnya, SLM mampu membangun hubungan yang kuat dan efektif antara penyedia layanan TI dan bisnis pelanggan, mengelola harapan mereka dan memastikan bahwa layanan yang disampaikan bertemu atau melebihi harapan itu. 

Peran kunci dalam SLM adalah manajer tingkat layanan, yang memiliki tanggung jawab untuk mengarahkan dan mengelola proses SLM. Manajer tingkat layanan akan memiliki tanggung jawab untuk kerangka kerja SLA dan struktur dan untuk hubungan keseluruhan antara penyedia layanan TI dan pelanggannya dan dengan bisnis.

Service Reporting


Proses Service Reporting melaporkan hasil yang dicapai baik secara operasional maupun strategis. Ini juga melaporkan setiap perkembangan yang terkait dengan Service Level seperti mengendalikan berbagai target, misal ketersediaan.

Tujuannya adalah untuk memberikan informasi kepada TI dan bisnis agar keputusan yang diambil dapat dibuat. TI dan bisnis harus menyetujui format dan gaya laporan yang sesuai dengan audiens yang relevan.

Aktivitas dalam proses Service Reporting meliputi :
  • Mengumpulkan data dari berbagai sumber.
  • Memproses dan Menerapkan data.
  • Menerbitkan informasi, menggunakan berbagai alat seperti Intranet, email, briefing.
  • Menyetel laporan ke bisnis, unit bisnis yang berbeda ingin laporan yang berbeda dalam hal gaya, format, data, frekuensi.
  • Penting untuk meninjau proses Service Reporting dan laporan yang dihasilkan secara teratur karena laporan akan berubah dalam hal data yang diperlukan, pengaturan waktu, audiens.

Service Availability and Continuity Management


Ketersediaan layanan TI adalah persyaratan paling mendasar dalam organisasi mana pun. Karena organisasi seringkali sangat tergantung pada layanan TI mereka untuk begitu banyak fungsi bisnis, jika layanan TI tidak tersedia, bisnis organisasi secara efektif berhenti. Jika suatu organisasi memiliki keraguan tentang perlunya berinvestasi dalam manajemen ketersediaan, pertimbangkan dampak dari tidak memiliki fungsi bisnis vital yang bergantung pada ketersediaan layanan TI. 

Tujuan utama dari proses ini adalah :
  • Mempersiapkan dan memelihara rencana ketersediaan.
  • Memantau tingkat ketersediaan dan status sumber daya dan layanan untuk diidentifikasi masalah ketersediaan potensial dan aktual dan mencegah atau meminimalkan gangguan bisnis akibatnya.
  • Mengelola ketersediaan layanan dan sumber daya untuk memenuhi layanan yang disepakati tingkat.
  • Memberikan titik fokus dan tanggung jawab manajemen untuk semua kegiatan terkait ketersediaan sehubungan dengan sumber daya dan layanan.
  • Membantu penyelidikan dan penyelesaian insiden terkait ketersediaan dan masalah.
  • Menilai dampak perubahan pada tingkat dan rencana ketersediaan.
  • Secara proaktif meningkatkan ketersediaan di mana biaya dibenarkan.

Sebagian besar ketergantungan organisasi pada sistem TI mereka sedemikian rupa sehingga hilangnya aplikasi atau infrastruktur utama dapat menyebabkan perusahaan gagal dalam beberapa hari jika tidak lebih awal. Karena itu, organisasi perlu merencanakan bagaimana mereka akan memulihkan sistem utama mereka dalam skala waktu yang tepat jika terjadi kegagalan. Ini adalah fokus dari proses manajemen kontinuitas layanan TI atau IT service continuity management (ITSCM).

Tujuan ITSCM adalah untuk mendukung manajemen kelangsungan bisnis dengan memastikan bahwa sumber daya, sistem, dan layanan TI dapat dipulihkan dalam rentang waktu yang disepakati jika terjadi insiden besar. Ini dicapai dengan menciptakan dan memelihara fasilitas yang diperlukan dan kemampuan pemulihan.

Tujuan dari proses ini adalah :
  • Membuat dan memelihara rencana kesinambungan layanan TI dan rencana pemulihan.
  • Melakukan latihan analisis dampak bisnis atau business impact analysis (BIA) reguler untuk memastikan bahwa rencana tetap selaras dengan perubahan persyaratan bisnis.
  • Melakukan analisis risiko dan latihan manajemen secara berkala untuk menentukan potensi kegagalan dan mengidentifikasi serta menerapkan respons yang sesuai yang memenuhi target kesinambungan bisnis yang disepakati.
  • Menilai dampak perubahan dan mengambil tindakan yang tepat untuk terus memberikan tingkat perlindungan yang diperlukan.
  • Memastikan bahwa kontrak dan perjanjian pihak ketiga yang sesuai sudah ada dan terus diperbarui untuk menjaga kesinambungan dan rencana pemulihan.
  • Secara proaktif meningkatkan kemampuan pemulihan di mana biaya efektif untuk melakukannya.
  • Memberikan saran dan panduan tentang kesinambungan dan masalah terkait pemulihan.


Capacity Management 


Proses manajemen kapasitas bertanggung jawab atas semua kegiatan yang terkait dengan penyediaan kapasitas yang memadai dan hemat biaya. Lingkupnya juga mencakup manajemen kinerja. 

Kapasitas dan kinerja sangat terkait karena walaupun tingkat layanannya biasanya dinyatakan dalam hal kinerja (mis. waktu respons, tingkat throughput dll.), ketika sumber daya kehabisan kapasitas, kinerja menderita. 

Tujuan dari proses manajemen kapasitas adalah untuk memastikan bahwa ada sumber daya TI yang memadai untuk memenuhi kebutuhan saat ini dan masa depan bisnis. Ini adalah tindakan penyeimbangan dua bagian : 
  • Pasokan versus permintaan. Sumber daya yang memadai harus tersedia untuk memenuhi permintaan bisnis dan mempertahankan tingkat layanan. Ini dapat dibantu dengan mempengaruhi permintaan (melalui proses manajemen permintaan) untuk membuat yang paling efektif penggunaan sumber daya dan dengan menyetel dan mengoptimalkan sumber daya saat ini.
  • Biaya versus sumber daya. Pengeluaran sumber daya harus dibenarkan oleh bisnis kebutuhan dan sumber daya harus digunakan secara efisien. Ini dapat dibantu dengan mempertimbangkan manfaat biaya dari teknologi yang lebih baru.

Tujuan dari proses ini adalah untuk memberikan titik fokus dan tanggung jawab manajemen untuk semua kapasitas dan kegiatan terkait kinerja sehubungan dengan kedua sumber daya dan layanan. 

Tujuan utama dari proses ini adalah sebagai berikut : 
  • Menghasilkan dan memelihara rencana kapasitas, menilai dampak perubahan pada merencanakan dan tentang kinerja layanan dan sumber daya. 
  • Berkontribusi untuk memenuhi tingkat layanan dengan mengelola kapasitas dan kinerja layanan dan sumber daya. 
  • Memberikan saran dan panduan tentang semua kapasitas dan kegiatan terkait kinerja, membantu dengan diagnosis dan penyelesaian insiden dan masalah terkait dan mengusulkan peningkatan kinerja proaktif di mana ini dibenarkan biaya.

Information Security Management


Sistem manajemen keamanan informasi (ISMS) adalah seperangkat kebijakan dan prosedur untuk mengelola data sensitif organisasi secara sistematis. Tujuan dari SMKI adalah untuk meminimalkan risiko dan memastikan kelangsungan bisnis dengan secara proaktif membatasi dampak pelanggaran keamanan.

SMKI/ISMS biasanya membahas perilaku dan proses karyawan serta data dan teknologi. Ini dapat ditargetkan pada tipe data tertentu, seperti data pelanggan, atau dapat diimplementasikan secara komprehensif yang menjadi bagian dari budaya perusahaan.

ISMS adalah sistem manajemen keamanan informasi, sebuah metodologi yang memastikan tingkat keamanan informasi yang tinggi melalui proses yang ditetapkan dan praktik terbaik. Dalam konteks ISO, Anda dapat menganggap ISMS sebagai standar untuk praktik keamanan yang bertanggung jawab.

Pada bentuknya yang paling dasar , manajemen keamanan informasi terdiri atas empat tahap :
  • Mengidentifikasi ancaman yang dapat menyerang sumber daya informasi perusahaan
  • Mengidentifikasi resiko yang dapat disebabkan oleh ancaman-ancaman tersebut
  • Menentukan kebijakan keamanan informasi
  • Mengimplementasikan pengendalian untuk mengatasi resiko-resiko tersebut

Tujuan Keamanan Informasi:
  • Kerahasiaan. Perusahaan berusaha untuk melindungi data dan informasinya dari pengungkapan kepada orang-orang yang tidak berwenang.
  • Ketersediaan. Perusahaan menyediakan data dan informasi yang tersedia untuk pihak-pihak yang memiliki wewenang untuk menggunakanannya.
  • Integritas. Semua system informasi harus memberikan representasi akurat atas system fisik yang direpresentasikannya.

Customer Relationship Management


CRM (Customer Relationship Management) adalah strategi bisnis yang memadukan proses, manusia dan teknologi. CRM melingkupi semua aspek yang berhubungan dengan calon pelanggan dan pelanggan saat ini, termasuk di dalamnya adalah pusat panggilan (call center), tenaga penjualan (sales force), pemasaran, dukungan teknis (technical support) dan layanan lapangan (field service). Membantu menarik prospek penjualan, mengkonfersi mereka menjadi pelanggan, dan mempertahankan pelanggan yang sudah ada, pelanggan yang puas dan loyal.

Tujuan dari CRM adalah untuk mengetahui sebanyak mungkin tentang bagaimana kebutuhan dan perilaku pelanggan, untuk selanjutnya memberikan sebuah pelayanan yang optimal dan mempertahankan hubungan yang sudah ada, karena kunci sukses dari bisnis sangat tergantung seberapa jauh kita tahu tentang pelanggan dan memenuhi kebutuhan mereka. Sulit bagi sebuah perusahaan untuk mencapai dan mempertahankan kepemimpinan dan profitabilitas tanpa melakukan fokus secara berkesinambungan yang dapat dilakukan pada CRM.

CRM dibuat untuk berbagai tujuan yang pada akhirnya mencapai tujuan akhir bisnis yaitu memperoleh laba. Inilah tujuan-tujuan dari adanya CRM :
  • Meningkatkan hubungan antara perusahaan dengan pelanggan yang sudah ada untuk meningkatkan pendapatan perusahaan. 
  • Menyediakan informasi yang lengkap mengenai pelanggan untuk memaksimalkan jalinan hubungan pelanggan dengan perusahaan melalui penjualan secara up selling dan cross selling sehingga dapat meningkatkan keuntungan dengan cara mengidentifikasi, menarik serta mempertahankan pelanggan yang paling memberikan nilai tambah bagi perusahaan. 
  • Menggunakan informasi yang terintegrasi untuk menghasilkan pelayanan yang memuaskan dengan memanfaatkan informasi pelanggan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan sehingga dapat menghemat waktu pelanggan. 
  • Menghasilkan konsistensi dalam prosedur dan proses menyalurkan jawaban kepada pelanggan.

CRM mencakup metode dan teknologi yang digunakan perusahaan untuk mengelola hubungan mereka dengan pelanggan. Informasi yang disimpan untuk setiap pelanggan dan calon pelanggan dianalisis dan digunakan untuk tujuan ini. Proses otomasi dalam CRM digunakan untuk menghasilkan personalisasi pemasaran otomatis berdasarkan informasi pelanggan yang tersimpan di dalam sistem.

CRM menjangkau banyak bidang dalam organisasi, termasuk : 
  • Penjualan 
  • Layanan Pelanggan 
  • Pemasaran

Sebuah sistem CRM harus bisa menjalankan fungsi :
  • Mengidentifikasi faktor-faktor yang penting bagi pelanggan.
  • Mengusung falsafah customer-oriented (customer centric)
  • Mengadopsi pengukuran berdasarkan sudut pandang pelanggan
  • Membangun proses ujung ke ujung dalam melayani pelanggan
  • Menyediakan dukungan pelanggan yang sempurna
  • Menangani keluhan/komplain pelanggan
  • Mencatat dan mengikuti semua aspek dalam penjualan
  • Membuat informasi holistik tentang informasi layanan dan penjualan dari pelanggan.


Supplier Relationship Management


Manajemen hubungan pemasok, juga dikenal sebagai SRM, adalah pendekatan sistematis untuk menilai kontribusi pemasok untuk bisnis. Ini membantu untuk menentukan pemasok mana yang memberikan pengaruh terbaik pada kesuksesan dan memastikan mereka berkinerja baik. Manajemen rantai pasokan menggunakan SRM dalam pengadaan, operasi, dan manajemen proyek.

SRM membantu membina hubungan positif dengan pemasok dan membantu membimbing kegiatan yang harus dilakukan dengan masing-masing pemasok. Cara kerjanya hampir sama dengan yang dilakukan manajemen hubungan pelanggan, atau CRM, di front-end, berhadapan langsung dengan pelanggan.

Tujuan utama SRM adalah untuk meningkatkan proses bisnis. Dengan membuat pendekatan yang efisien, meningkatkan efisiensi untuk bisnis dan pemasok. Meskipun pendekatan terhadap SRM dapat bervariasi dari satu organisasi ke organisasi lain, fokus utamanya adalah pada pengembangan hubungan yang saling menguntungkan dengan semua pemasok, terutama yang dianggap sebagai kemitraan strategis untuk merek bisnis.

SRM pada dasarnya adalah proses bagi organisasi menentukan kategori pasokan yang penting dan menciptakan strategi yang mengelola barang-barang ini dengan cara yang cerdas.
Langkah-langkah dalam SRM pada dasarnya ada tiga yaitu :
  • Segmentasi pemasok. Memetakan pemasok terhadap keuntungan dan paparan risiko.
  • Pengembangan strategi pemasok. Mendistribusikan sumber daya internal dan rencana untuk memenuhi kebutuhan bisnis.
  • Eksekusi strategi pemasok.

References :
  • Ernest Brewster, Richard Griffiths, Aidan Lawes, John Sansbury, 2012, IT Service Management A Guide for ITIL, Second Edition, BCS, London 
  • https://www.techopedia.com/definition/30103/service-management-system-sms
  • alifmurti46.blogspot.com/2020/05/itsm-adalah-metode-pengelolaan-layanan.html
  • https://itgid.org/information-security-management-system-isms-iso-27001/
  • https://simkelompok7.wordpress.com/2014/10/24/manajemen-keamanan-informasi-dan-manajemen-keberlangsungan-bisnis/
  • https://www.jurnal.id/id/blog/pengertian-tujuan-manfaat-crm-dalam-bisnis/
  • https://www.forbes.com/sites/jwebb/2017/02/21/what-is-supplier-relationship-management/#50031ae1ec5a

Sabtu, 18 April 2020

Proses dan Pendekatan Manajemen Layanan

I. Spesification of Services and Business Models 

A. Business models with a CANVAS template

Model bisnis ini terdiri dari 9 pilar utama yang merangkum proses bisnis mulai dari value perusahaan, segmen pelanggan, hingga struktur finansial. Dengan kesembilan blok ini, sebenarnya sudah bisa memvalidasi satu ide bisnis. 

Oleh karenanya, membuat bisnis model canvas adalah hal awal yang biasanya dibutuhkan seorang pengusaha pemula.

1. Customer Segments

Bagian ini menjelaskan pelanggan potensial dari produk. Bisa juga berisi profil orang yang memiliki masalah yang akan dipecahkan. Untuk model bisnis ecommerce yang berkembang sekarang ini, customer segment mencakup penjual barang dan pembeli.

2. Value Propositions 

Blok ini berisi tentang nilai tambah yang akan membuat bisnis terlihat lebih menarik dan berbeda dengan bisnis lainnya. Biasanya berupa solusi atau inovasi yang ditawarkan dan menjadi keunggulan utama perusahaan. 

3. Channel

Channel adalah media yang digunakan untuk menjembatani solusi yang ditawarkan untuk sampai ke konsumen. Channel ini bisa berupa website, online advertisement, aplikasi, bahkan seorang sales person.

4. Customer Relationships

Jika channel lebih banyak menjangkau orang yang belum tahu tentang produk yang ditawarkan, maka customer relationship adalah kebalikannya. Harus terlebih dahulu tahu bagaimana cara bisnis agar bisa terus keep in touch dengan para pelanggan. 

5. Revenue Streams

Pada kedua blok bagian bawah (cost & revenue), perlu menjabarkan struktur finansial dari perusahaan. Di bagian revenue, tentu yang perlu dituliskan adalah produk/jasa apa saja yang dapat memberikan pemasukan. 

6. Key Activities

Blok ini adalah bagian yang menjelaskan bagaimana bisa menciptakan value preposition perusahaan. Jika bisnis tersebut adalah product-based, maka inovasi teknologi dalam proses pembuatan produk bisa menjadi key activities. 

7. Key Resources

Sumber daya utama, key resources merupakan kolom yang akan menjelaskan asset strategis perusahaan. Aset ini bisa berupa bahan baku produk, infrastruktur yang dibutuhkan dan semacamnya. 

8. Key Partnerships

Tidak ada bisnis besar yang berjalan sendiri, dalam menjalankan sebuah aktivitas bisnis, tentu membutuhkan mitra. Disinilah tempat untuk memasukkan mitra strategis yang dimiliki. Dalam konteks bisnis, mitra bisa berupa supplier, vendor, agensi, dan sejenisnya. 

9. Cost Structure

Pada bagian terakhir ini, harus menentukan biaya apa saja yang dibutuhkan untuk menjalankan keseluruhan aktivitas bisnis. Untuk mempermudah,struktur biaya dapat diisi berdasarkan isian pada kolom key activities, key resources, dan channel. 

B. Market understanding 

Understanding market atau pemahaman pasar dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya :
- Mengidentifikasi kebutuhan
- Dengan memahami segmentasi pasar
- Dengan memahami lanskap kompetitif
- Mengevaluasi pesan-pesan yang direspon oleh pelanggam
- Menganalisis nilai dan persepsi dari produk usaha
- Mengukur ukuran pasar dan kemungkinan tingkat pertumbuhan 

C. The empathy map 

Empathy map adalah sebuah alat yang dapat membantu kita untuk menganalisa bagaimana kita bisa mengetahui apa yang dirasakan, apa yang dipikirkan, dan apa yang dilakukan pelanggan kita. Hal ini bisa dilakukan melalui studi literatur tentang perilaku pelanggan atau melalui survey dan observasi. 

D. Service portfolio 

Portofolio layanan, yang memberikan pandangan manajemen-tingkat semua layanan TI ketika mereka bergerak melalui siklus hidup layanan, adalah sistem manajemen penting dalam ITIL. Ia memiliki tiga bagian :
  • Pipa layanan yang memegang informasi tentang layanan yang berada di bawah pengembangan.
  • Katalog layanan yang memegang rincian semua layanan baik yang sudah di produksi atau siap untuk pindah ke produksi.
  • Pensiunan jasa yang telah dihentikan dari penggunaan operasional. Portofolio layanan karena itu memberikan gambaran lengkap dari semua layanan dalam pengembangan untuk pengiriman masa depan, layanan produksi dan jasa yang telah datang ke akhir masa produktif. Ini adalah dasar untuk mengelola siklus penuh untuk semua layanan dalam hal kebutuhan bisnis mereka, kasus bisnis untuk investasi, sumber daya keuangan dan lainnya yang diperlukan untuk pengembangan layanan dan operasi, risiko yang terkait dengan pembangunan dan pengoperasian layanan dan, mana yang relevan, bagaimana layanan akan dibanderol. 
Tujuan dari manajemen portofolio layanan (SPM) adalah untuk memastikan bahwa keputusan untuk berinvestasi dalam layanan IT yang sehat dan sepenuhnya selaras dengan kebutuhan dan prioritas bisnis. Setelah keputusan dibuat untuk berinvestasi, investasi harus dikelola melalui siklus hidup, dan SPM tujuan di sini adalah untuk memastikan bahwa investasi memberikan nilai optimal bagi organisasi. Sebagai sistem pendukung manajemen, portofolio layanan memungkinkan organisasi untuk menjawab pertanyaan strategis tentang layanan, pelanggan dan harga, serta membantu mengatur prioritas dan alokasi rencana sumber daya. 

II. Service Management

Manajemen pelayanan merupakan seperangkat kemampuan organisasi khusus untuk memberikan hasil kepada pelanggan dalam bentuk layanan. Kemampuan khusus organisasi ini meliputi proses, kegiatan, fungsi dan peran yang menggunakan penyedia layanan dalam memberikan layanan kepada pelanggan mereka, serta kemampuan untuk membangun struktur organisasi yang cocok, mengelola pengetahuan dan memahami bagaimana memfasilitasi hasil yang menciptakan nilai. 

Manajemen layanan memiliki hak yang jelas untuk menganggap dirinya sebagai sebuah profesi, dan latihan disiplin manajemen pelayanan sebagai praktek profesional dilakukan dan didukung oleh komunitas global ditarik dari semua sektor pasar. 

Manajemen Pelayanan dapat menyediakan pelayanan sebagai berikut :
  • Memahami layanan yang mereka sediakan baik dari konsumen dan perspektif penyedia
  • Memastikan bahwa layanan benar-benar agar peanggan mendapatkan yang diinginkan
  • Memahami nilai service tersebut kepada pelanggan mereka dan karna mereka yang terpenting
  • Memahami dan mengelola semua biaya dan risiko yang berkaitan dengan pemberian layanan tersebut. 

Ada 5 Standar Manajemen Layanan Teknologi Informasi, diantaranya :

1. Service Strategy

Mengisyaratkan bahwa setiap organisasi semacam perusahaan harus memiliki sebuah Strategi Pelayanan yang menjadi panduan bagi setiap aktivitas “services” yang terjadi dalam perimeter organisasi. Secara prinsip,strategi ini berisi bagaimana cara dan mekanisme yang dianut serta perlu dilakukan oleh seluruh pemangku kepentinganorganisasi di dalam usahanya untuk memberikan layanan yang baik.

2. Service Design

Memperlihatkan bagaimana organisasi merancang ekosistem (infrastruktur dan superstruktur) teknologi informasi untuk memenuhi atau melayani para pemangku kepentingannya. Melalui desain ini, diharapkan tercipta suatu lingkungan kondusif bagi divisi teknologi informasi dalam memberikan layanan prima ke segenap individu, kelompok,dan unit/divisi pengguna pada organisasi.

3. Service Transition

Menggambarkan bagaimana organisasi bertransformasi atau menjalankan perubahan menujurancangan lingkungan pelayanan yang diinginkan. Tahapan transisi ini harus dikawal dengan sebaik-baiknya agar efektifdan tidak terjadi chaos.

4. Service Operation

Mendeskripsikan secara detail dan jelas mengenai inti dari rangkaian proses manajemen, yaitupengelolaan pelayanan itu sendiri pada tahap operasionalnya. Di sinilah para pelanggan internal maupun eksternal(pemangku kepentingan) akan mendapatkan langsung manfaat dari keberadaan teknologi informasi dan komunikasi.

5. Service Improvement

Mengingatkan perlunya dilakukan perbaikan berkesinambungan terus menerus darimasa ke masa. Hal ini tidak saja berarti bahwa organisasi yang bersangkutan senantiasa belajar dan selalu berkembangdari masa ke masa, namun mengandung makna bahwa organisasi selalu siap menghadapi berbagai perubahan karenadinamika global.

ITSM 

ITSM atau Manajemen Layanan Teknologi Informasi adalah suatu metode pengelolaan sistem teknologi informasi (TI) yang secara filosofis terpusat pada perspektif konsumen layanan TI terhadap bisnis perusahaan. ITSM merupakan kebalikan dari pendekatan manajemen TI dan interaksi bisnis yang terpusat pada teknologi. Istilah ITSM tidak berasal dari suatu organisasi, pengarang, atau pemasok tertentu dan awal penggunaan frasa inipun tidak jelas kapan dimulainya.

ITSM berfokus pada proses dan karenanya terkait dan memiliki minat yang sama dengan kerangka kerja dan metodologi gerakan perbaikan proses (seperti TQM, Six Sigma, Business Process Management, dan CMMI). Disiplin ini tidak memedulikan detail penggunaan produk suatu pemasok tertentu atau detail teknis suatu sistem yang dikelola, melainkan berfokus pada upaya penyediaan kerangka kerja untuk menstrukturkan aktivitas yang terkait dengan TI dan interaksi antara personel teknis TI dengan pengguna teknologi informasi.

ITSM umumnya menangani masalah operasional manajemen teknologi informasi (kadang disebut operations architecture, arsitektur operasi) dan bukan pada pengembangan teknologinya sendiri. Contohnya, proses pembuatan perangkat lunak komputer untuk dijual bukanlah fokus dari disiplin ini, melainkan sistem komputer yang digunakan oleh bagian pemasaran dan pengembangan bisnis di perusahaan perangkat lunak-lah yang merupakan fokus perhatiannya. Banyak pula perusahaan non-teknologi, seperti pada industri keuangan, ritel, dan pariwisata, yang memiliki sistem TI yang berperan penting, walaupun tidak terpapar langsung kepada konsumennya.

Sesuai dengan fungsi ini, ITSM sering dianggap sebagai analogi disiplin ERP pada TI, walaupun sejarahnya yang berakar pada operasi TI dapat membatasi penerapannya pada aktivitas utama TI lainnya seperti manajemen portfolio TI dan rekayasa perangkat lunak.

Sumber :
https://karinov.co.id/contoh-bisnis-model-canvas/
https://sapioresearch.com/market-understanding-research
https://blog.beon.co.id/gunakan-empathy-map-untuk-mengenali-pelanggan-anda/
https://adrivit.wordpress.com/2016/06/25/10-layanan-manajemen-portofolio/
https://gustianhd.wordpress.com/2016/04/17/manajemen-pelayanan/
http://deasheilamatulessy.blogspot.com/2019/03/manajemen-layanan-teknologi-informasi.html

Selasa, 24 Maret 2020

Pengembangan Teknologi di Bidang Pertanian dan Peternakan

Perkembangan teknologi yang begitu pesat belakangan ini memungkinkan siapa pun dapat ikut memanfaatkan teknologi tersebut untuk berbagai keperluan. Beberapa diantaranya adalah bidang pertanian dan peternakan yang juga tak luput dari pemanfaatan teknologi. Hal ini dibuktikan dengan banyak bermunculannya inovasi karya anak bangsa yang bertujuan memberikan kemudahan pada para petani dan peternak Indonesia serta meningkatkan kualitas hasil tani dan ternak. Berikut empat inovasi teknologi karya anak Indonesia berupa aplikasi Android dan iOS yang bertujuan memudahkan para peternak dan petani di Indonesia.

PELUANG DAN TANTANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DALAM INDUSTRI 4.0

KELOMPOK 3 DAFFA TSANY SEMBODO (11118617) DENNIS FERDIAN (11118749) MUHAMMAD CHALIF CHAIDIR (14118521) QABILIE AUZA’IE M ASAS (15118684) RAD...